EVALUASI PEMBELAJARAN DENGAN RANAH KOGNITIF AFEKTIF DAN
PSIKOMOTORIK
NAMA : SUKRIAH
STAMBUK : 10 052 014 003
FAKULTAS SASTRA
UNIVERSITAS ISLAM MAKASSAR
2013
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Dalam pembelajaran harus ada
target yang harus dicapai, menetapkan tujuan pembelajaran itu sangat penting
bagaikan anak panah lepas dari busurnya mencari papan target itu tujuan
utamanya. Tapi terkadang tujuan dan target biasanya tidak sesuai dengan apa
yang sudah di harapkan makanya seorang guru harus mengevaluasi pembelajaran
yang sudah ada didalam kelas maupun diluar.
Tujuan pembelajaran dapat
berupa tujuan instruksional umum yang ingin dicapai pada akhir semerster ,
tujuan kurikulum yang ingin dicapai oleh mata pelajaran yang diajarkan oleh seorang guru, tujuan
lembaga seperti perbedaan tujuan
kurikullum
SD , SMP, SMA dan
UNIVERSITAS , serta tujuan nasional sebagaimana
tercantum dalam UUD “ 45,
yaitu memejukan kesejahteraan umum ,
mencedaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia.
Evaluasi ini , tidak hanya
menbicarakan tentang bagaimana peran seorang guru dalam menyajikan mata
pelajaran yang sudah ada tapi bagaimana kemampuan siswa mengevaluasi
pembelajaran dilihat dari hasil belajar kedalam ranah kognitif , afektif
, dan psikomotorik . Makanya disini akan
dijelaskan pengertian evaluasi dan fungsi utamanya . Selain itu mengulas satu persatu pengertian dari
kognitif, afektif dan psikomotorik dari proses belajar mengajar di dalam kelas
dan lingkungan sekitarnya.
B.
RUMUSAN MASALAH
1.
Menjelaskan pengertian evaluasi
pembelajaran ?
2.
Menjelaskan pengertian kognitif,
afektif dan psikomotorik ?
3.
Bagaimana pengaruh evaluasi pembelajaran terhadap ranah
kognitif, afektif dan psikomotorik ?
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Evaluasi Pembelajaran
Evaluasi dapat diartikan sebagai sebagai suatu kegiatan yang
terencana untuk mengetahui keadaan suatu objek dengan menggunakan instrumen dan
hasilnya dibandingkan dengan suatu tolak ukur untuk memperoleh suatu
kesimpulan. Fungsi utama evaluasi adalah menelaah suatu objek atau keadaan
untuk mendapatkan informasi yang tepat sebagai dasar untuk pengambilan
keputusan.
Sesuai pendapat Grondlund dan
Linn (1990) mengatakan bahwa evaluasi pembelajran adalah suatu proses
mengumpulkan, menganalisis dan menginterpretasi informasi secaras sistematik
untuk menetapkan sejauh mana ketercapaian tujuan pembelajaran. Untuk
memeperoleh informasi yang tepat dalam kegiatan evaluasi dilakukan melalui
kegiatan pengukuran. Pengukuran merupakan suatu proses pemberian skor atau
angka-angka terhadap suatu keadaan atau gejala berdasarkan atura-aturan
tertentu. Dengan demikian terdapat kaitan yang erat antara pengukuran
(measurment) dan evaluasi (evaluation) kegiatan pengukuran merupakan dasar
dalam kegiatan evaluasi.
Evaluasi adalah proses
mendeskripsikan, mengumpulkan dan menyajikan suatu informasi yang bermanfaat
untuk pertimbangan dalam pengambilan keputusan. Evaluasi pembelajaran merupakan
evaluasi dalam bidang pembelajaran. Tujuan evaluasi pembelajaran adalah untuk
menghimpun informasi yang dijadikan dasar untuk mengetahui taraf kemajuan,
perkembangan, dan pencapaian belajar siswa, serta keefektifan pengajaran guru.
Evaluasi pembelajaran mencakup kegiatan pengukuran dan penilaian. Bila ditinjau
dari tujuannya, evaluasi pembelajaran dibedakan atas evaluasi diagnostik,
selektif, penempatan, formatif dan sumatif. Bila ditinjau dari sasarannya,
evaluasi pembelajaran dapat dibedakan atas evaluasi konteks, input, proses,
hasil dan outcom. Proses evaluasi dilakukan melalui tiga tahap yaitu tahap
perencanaan, pelaksanaan, pengolahan hasil dan pelaporan.
B. Ranah Kognitif, Afektif dan
Psikomotorik
v Ranah Kognitif
Aspek kognitif adalah kemampuan intelektual
siswa dalam berpikir, mengetahui dan memecahkan masalah. Ranah kognitif
mencakup kegiatan mental (otak). Menurut Bloom, segala upaya yang menyangkut
aktivitas otak adalah termasuk dalam ranah kognitif. Ranah kognitif berhubungan
dengan kemampuan berfikir, termasuk didalamnya kemampuan menghafal, memahami,
mengaplikasi, menganalisis, mensintesis, dan kemampuan mengevaluasi. Dalam
ranah kognitif itu terdapat enam aspek atau jenjang proses berfikir, mulai dari
jenjang terendah sampai dengan jenjang yang paling tinggi. Keenam jenjang atau
aspek yang dimaksud adalah:
1.
Pengetahuan/hafalan/ingatan (knowledge): Adalah kemampuan seseorang untuk mengingat-ingat kembali (recall)
atau mengenali kembali tentang nama, istilah, ide, rumus-rumus, dan sebagainya,
tanpa mengharapkan kemampuan untuk menggunkannya. Pengetahuan atau ingatan
adalah merupakan proses berfikir yang paling rendah. Salah satu contoh hasil
belajar kognitif pada jenjang pengetahuan adalah dapat menghafal kosa kata,
menerjemahkan dan menuliskannya secara baik dan benar, sebagai salah satu
materi pelajaran kedisiplinan yang diberikan oleh guru Pendidikan Bahasa
Inggris di sekolah.
2.
Pemahaman (comprehension) : Adalah kemampuan seseorang untuk mengerti atau
memahami sesuatu setelah sesuatu itu diketahui dan diingat. Dengan kata lain,
memahami adalah mengetahui tentang sesuatu dan dapat melihatnya dari berbagai
segi. Seseorang peserta didik dikatakan memahami sesuatu apabila ia dapat
memberikan penjelasan atau memberi uraian yang lebih rinci tentang hal itu
dengan menggunakan kata-katanya sendiri. Pemahaman merupakan jenjang kemampuan
berfikir yang setingkat lebih tinggi dari ingatan atau hafalan.
Salah satu contoh hasil belajar ranah kognitif pada jenjang pemahaman ini misalnya: Peserta didik atas pertanyaan Guru Pendidikan Agama Islam dapat menguraikan tentang makna kedisiplinan yang terkandung dalam surat al-‘Ashar secara lancar dan jelas.
Salah satu contoh hasil belajar ranah kognitif pada jenjang pemahaman ini misalnya: Peserta didik atas pertanyaan Guru Pendidikan Agama Islam dapat menguraikan tentang makna kedisiplinan yang terkandung dalam surat al-‘Ashar secara lancar dan jelas.
3.
Penerapan (application): Adalah kesanggupan seseorang untuk menerapkan atau
menggunakan ide-ide umum, tata cara ataupun metode-metode, prinsip-prinsip,
rumus-rumus, teori-teori dan sebagainya, dalam situasi yang baru dan kongkret.
Penerapan ini adalah merupakan proses berfikir setingkat lebih tinggi ketimbang
pemahaman.
Salah satu contoh hasil belajar kognitif jenjang penerapan misalnya: Peserta didik mampu memikirkan tentang penerapan konsep kedisiplinan yang diajarkan Islam dalam kehidupan sehari-hari baik dilingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat.
Salah satu contoh hasil belajar kognitif jenjang penerapan misalnya: Peserta didik mampu memikirkan tentang penerapan konsep kedisiplinan yang diajarkan Islam dalam kehidupan sehari-hari baik dilingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat.
4.
Analisis (analysis) : Adalah kemampuan seseorang untuk merinci atau
menguraikan suatu bahan atau keadaan menurut bagian-bagian yang lebih kecil dan
mampu memahami hubungan di antara bagian-bagian atau faktor-faktor yang satu
dengan faktor-faktor lainnya. Jenjang analisis adalah setingkat lebih tinggi
ketimbang jenjang aplikasi.
Contoh: Peserta didik dapat merenung dan memikirkan dengan baik tentang wujud nyata dari kedisiplinan seorang siswa dirumah, disekolah, dan dalam kehidupan sehari-hari di tengah-tengah masyarakat, sebagai bagian dari ajaran Islam.
Contoh: Peserta didik dapat merenung dan memikirkan dengan baik tentang wujud nyata dari kedisiplinan seorang siswa dirumah, disekolah, dan dalam kehidupan sehari-hari di tengah-tengah masyarakat, sebagai bagian dari ajaran Islam.
5.
Sintesis (syntesis) : Adalah
kemampuan berfikir yang merupakan kebalikan dari proses berfikir analisis.
Sisntesis merupakan suatu proses yang memadukan bagian-bagian atau unsur-unsur
secara logis, sehingga menjelma menjadi suatu pola yang yang berstruktur atau
bebrbentuk pola baru. Jenjang sintesis kedudukannya setingkat lebih tinggi
daripada jenjang analisis. Salah satu hasil belajar kognitif dari jenjang
sintesis ini adalah: peserta didik dapat menulis karangan tentang pentingnya
kedisiplinan sebagiamana telah diajarkan oleh islam.
6.
Penilaian/penghargaan/evaluasi
(evaluation) : Adalah merupakan jenjang berpikir paling tinggi dalam ranah
kognitif dalam taksonomi Bloom. Penilian/evaluasi disini merupakan kemampuan
seseorang untuk membuat pertimbangan terhadap suatu kondisi, nilai atau ide,
misalkan jika seseorang dihadapkan pada beberapa pilihan maka ia akan mampu
memilih satu pilihan yang terbaik sesuai dengan patokan-patokan atau kriteria
yang ada.
Salah satu contoh hasil belajar kognitif jenjang evaluasi adalah: peserta didik mampu menimbang-nimbang tentang manfaat yang dapat dipetik oleh seseorang yang berlaku disiplin dan dapat menunjukkan mudharat atau akibat-akibat negatif yang akan menimpa seseorang yang bersifat malas atau tidak disiplin, sehingga pada akhirnya sampai pada kesimpulan penilaian, bahwa kwdisiplinan merupakan perintah Allah SWT yang waji dilaksanakan dalam sehari-hari.
Salah satu contoh hasil belajar kognitif jenjang evaluasi adalah: peserta didik mampu menimbang-nimbang tentang manfaat yang dapat dipetik oleh seseorang yang berlaku disiplin dan dapat menunjukkan mudharat atau akibat-akibat negatif yang akan menimpa seseorang yang bersifat malas atau tidak disiplin, sehingga pada akhirnya sampai pada kesimpulan penilaian, bahwa kwdisiplinan merupakan perintah Allah SWT yang waji dilaksanakan dalam sehari-hari.
v
Ranah Afektif
Ranah afektif adalah ranah yang
berkaitan dengan sikap dan nilai. Ranah afektif mencakup watak perilaku seperti
perasaan, minat, sikap, emosi, dan nilai. Beberapa pakar mengatakan bahwa sikap
seseorang dapat diramalkan perubahannya bila seseorang telah memiliki kekuasaan
kognitif tingkat tinggi.
Ranah afektif menjadi lebih rinci lagi ke dalam lima jenjang, yaitu:
Ranah afektif menjadi lebih rinci lagi ke dalam lima jenjang, yaitu:
1.
Receiving atau attending (= menerima
atua memperhatikan), adalah kepekaan seseorang dalam menerima rangsangan
(stimulus) dari luar yang datang kepada dirinya dalam bentuk masalah, situasi,
gejala dan lain-lain. Termasuk dalam jenjang ini misalnya adalah: kesadaran dan
keinginan untuk menerima stimulus, mengontrol dan menyeleksi gejala-gejala atau
rangsangan yang datang dari luar. Receiving atau attenting juga sering di beri
pengertian sebagai kemauan untuk memperhatikan suatu kegiatan atau suatu objek.
Pada jenjang ini peserta didik dibina agar mereka bersedia menerima nilai atau
nilai-nilai yang di ajarkan kepada mereka, dan mereka mau menggabungkan diri
kedalam nilai itu atau meng-identifikasikan diri dengan nilai itu. Contah hasil
belajar afektif jenjang receiving , misalnya: peserta didik bahwa disiplin
wajib di tegakkan, sifat malas dan tidak di siplin harus disingkirkan
jauh-jauh.
2.
Responding (= menanggapi) mengandung arti “adanya partisipasi aktif”. Jadi
kemampuan menanggapi adalah kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk
mengikut sertakan dirinya secara aktif dalam fenomena tertentu dan membuat
reaksi terhadapnya salah satu cara. Jenjang ini lebih tinggi daripada jenjang
receiving. Contoh hasil belajar ranah afektif responding adalah peserta didik tumbuh
hasratnya untuk mempelajarinya lebih jauh atau menggeli lebih dalam lagi,
ajaran-ajaran Islam tentang kedisiplinan.
3.
Valuing (menilai=menghargai).
Menilai atau menghargai artinya mem-berikan nilai atau memberikan penghargaan
terhadap suatu kegiatan atau obyek, sehingga apabila kegiatan itu tidak
dikerjakan, dirasakan akan membawa kerugian atau penyesalan. Valuing adalah
merupakan tingkat afektif yang lebih tinggi lagi daripada receiving dan
responding. Dalam kaitan dalam proses belajar mengajar, peserta didik disini
tidak hanya mau menerima nilai yang diajarkan tetapi mereka telah berkemampuan
untuk menilai konsep atau fenomena, yaitu baik atau buruk. Bila suatu ajaran
yang telah mampu mereka nilai dan mampu untuk mengatakan “itu adalah baik”,
maka ini berarti bahwa peserta didik telah menjalani proses penilaian. Nilai
itu mulai di camkan (internalized) dalam dirinya.
4.
Organization (=mengatur atau
mengorganisasikan), artinya memper-temukan perbedaan nilai sehingga terbentuk
nilai baru yang universal, yang membawa pada perbaikan umum. Mengatur atau
mengorganisasikan merupakan pengembangan dari nilai kedalam satu sistem
organisasi, termasuk didalamnya hubungan satu nilai denagan nilai lain.,
pemantapan dan perioritas nilai yang telah dimilikinya.
5.
Characterization by evalue or calue
complex (=karakterisasi dengan suatu nilai atau komplek nilai), yakni
keterpaduan semua sistem nilai yang telah dimiliki oleh seseorang, yang
mempengaruhi pola kepribadian dan tingkah lakunya. Disini proses internalisasi
nilai telah menempati tempat tertinggi dalal suatu hirarki nilai. Nilai itu
telah tertanam secara konsisten pada sistemnya dan telah mempengaruhi emosinya.
Ini adalah merupakan tingkat efektif tertinggi, karena sikap batin peserta
didik telah benar-benar bijaksana. Ia telah memiliki phyloshopphy of life yang
mapan. Jadi pada jenjang ini peserta didik telah memiliki sistem nilai yang
telah mengontrol tingkah lakunya untuk suatu waktu yang lama, sehingga membentu
karakteristik “pola hidup” tingkah lakunya menetap, konsisten dan dapat
diramalkan. Secara skematik kelima jenjang afektif sebagaimana telah di
kemukakan dalam pembicaraan diatas, menurut A.J Nitko (1983) dapat di gambarkan
sebagai berikut: “Ranah afektif tidak dapat diukur seperti halnya ranah
kognitif, karena dalam ranah afektif kemampuan yang diukur adalah: Menerima
(memperhatikan), Merespon, Menghargai, Mengorganisasi, dan Karakteristik suatu
nilai.
Skala yang digunakan untuk mengukur ranah afektif seseorang terhadap kegiatan suatu objek diantaranya skala sikap. Hasilnya berupa kategori sikap, yakni mendukung (positif), menolak (negatif), dan netral. Sikap pada hakikatnya adalah kecenderungan berperilaku pada seseorang. Ada tiga komponen sikap, yakni kognisi, afeksi, dan konasi. Kognisi berkenaan dengan pengetahuan seseorang tentang objek yang dihadapinya. Afeksi berkenaan dengan perasaan dalam menanggapi objek tersebut, sedangkan konasi berkenaan dengan kecenderungan berbuat terhadap objek tersebut.
Skala yang digunakan untuk mengukur ranah afektif seseorang terhadap kegiatan suatu objek diantaranya skala sikap. Hasilnya berupa kategori sikap, yakni mendukung (positif), menolak (negatif), dan netral. Sikap pada hakikatnya adalah kecenderungan berperilaku pada seseorang. Ada tiga komponen sikap, yakni kognisi, afeksi, dan konasi. Kognisi berkenaan dengan pengetahuan seseorang tentang objek yang dihadapinya. Afeksi berkenaan dengan perasaan dalam menanggapi objek tersebut, sedangkan konasi berkenaan dengan kecenderungan berbuat terhadap objek tersebut.
v
Ranah Psikomotorik
Ranah psikomotor merupakan ranah yang
berkaitan dengan keterampilan (skill) atau kemampuan bertindak setelah
seseorang menerima pengalaman belajar tertentu. Ranah psikomotor adalah ranah
yang berhubungan dengan aktivitas fisik, misalnya lari, melompat, melukis,
menari, memukul, dan sebagainya. Hasil belajar ranah psikomotor dikemukakan
oleh Simpson (1956) yang menyatakan bahwa hasil belajar psikomotor ini tampak
dalam bentuk keterampilan (skill) dan kemampuan bertindak individu. Hasil
belajar psikomotor ini sebenarnya merupakan kelanjutan dari hasil belajar
kognitif (memahami sesuatu) dan hasil belajar afektif (yang baru tampak dalam
bentuk kecenderungan-kecenderungan berperilaku). Hasi belajar kognitif dan
hasil belajar afektif akan menjadi hasil belajar psikomotor apabila peserta
didik telah menunjukkan perilaku atau perbuatan tertentu sesuai dengan makna
yang terkandung dalam ranah kognitif dan ranah afektif dengan materi
kedisiplinan menurut agama Islam.
C. EVALUASI PEMBELAJARAN DENGAN RANAH KOGNITIF , AFEKTIF DAN
PSIKOMOTORIK
Tujuan aspek kognitif berorientasi pada
kemampuan berfikir yang mencakup kemampuan intelektual yang lebih sederhana,
yaitu mengingat, sampai pada kemampuan memecahkan masalah yang menuntut siswa
untuk menghubungkan dan menggabungkan beberapa ide, gagasan, metode atau
prosedur yang dipelajari untuk memecahkan masalah tersebut. Dengan demikian
aspek kognitif adalah sub-taksonomi yang mengungkapkan tentang kegiatan mental
yang sering berawal dari tingkat pengetahuan sampai ke tingkat yang paling
tinggi yaitu evaluasi. Evaluasi hasil belajar kognitif dapat dilakukan
dengan menggunakan tes objektif maupun tes uraian.
Tujuan dilaksanakannya penilaian hasil relajar
afektif ádalah untuk mengetahui capaian hasil belajar dalam hal penguasaan
domain afektif dari kompetensi yang diharapkan dikuasai oleh setiap peserta
didik setelah kegiatan pembelajaran berlangsung. Teknik pengukuran dan
penilaian hasil belajar afektif terdiri atas dua yakni teknik testing, yaitu
penilaian yang menggunakan tes sebagai alat ukurnya, dan teknik non- testing,
yaitu teknik penilaian yang menggunakan bukan tes sebagai alat ukurnya.
Dalam penilaian hasil belajar
psikomotor atau keterampilan harus
mencakup persiapan, proses, dan produk.
Penilaian dapat dilakukan pada saat proses berlangsung yaitu pada waktu peserta
didik melakukan praktik, atau sesudah proses berlangsung dengan cara mengetes peserta
didik.Penilaian psikomotorik dapat dilakukan dengan menggunakan observasi atau
pengamatan. Dengan kata lain, observasi dapat mengukur atau menilai hasil dan
proses belajar atau psikomotorik. Misalnya tingkah laku peserta didik ketika
praktik,kegiatan diskusi peserta didik, partisipasi peserta didik dalam
simulasi, dan penggunaan alins ketika belajar. Tes untuk mengukur ranah
psikomotorik adalah tes untuk mengukur penampilan atau kinerja (performance)
yang telah dikuasai oleh peserta didik.
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Dari beberapa uraian diatas
dapat di simpulkan bahwa dalam proses belajar mengajar menbutuhkan evaluasi pembelajaran dengan
ranah kognitif, afektif dan psikomotorik, sehingga dapat melihat pencapaian apa
yang sudah di capai oleh anak didik. Ketiga ranah tersebut sangat menbantu para
pendidik untuk mencerdaskan anak bangsa dan dapat mengaplikasikannya secara
maksimal apa yang telah di dapat dalam proses belajar mengajar.
Namun kesimpulan yang paling penting dalam uraian
di atas bahwa ketiga ranah tersebut saling berhubungan satu dengan yang
lainnya. Bahwa afektif merupakan pengetahuan yang perlu dikembangkan dengan
kognitif serta diaplikasikan dengan keterampillan yakni psikomotorik.
B. SARAN
Demikian Panduan Evaluasi
Pembelajaran ini disusun dengan bentuk yang sederhana, tentunya dengan harapan
mudah dimengerti dan dipahami sebagai salah satu acuan dalam pelaksanaan
evaluasi pembelajaran bagi mahasiswa khususnya dilingkungannya atau mahasiswa
perguruan tinggi pada umumnya.
Penulis meenyadari bahwa isi makalah ini belum mencapai tahap kesempurnaan, oleh karena itu penulis memohon kertik dan saran yang bisa membangun dan menyempurnakan isi makalah ini.
Kepada semua pihak yang telah membantu dan mendukung tersusunnya makalah ini, diucapkan banyak terima kasih, semoga bermanfaat. Amin
DAFTAR PUSTAKA
Sudijoono Anas, Pengantar Evaluasi Pendidikan, Jakarta PT. Raja grafindo Persada, 2011.
Arikunto Suharsimi, Dasar-Dasar evaluasi Pendidikan, Jakarta, Bumi Aksara 1995.
Www. Google.Com, Ranah Kognitif,Afektif dan Psikomotorik, di Akses Pada Tanggal 5 Oktober 2011.
Penulis meenyadari bahwa isi makalah ini belum mencapai tahap kesempurnaan, oleh karena itu penulis memohon kertik dan saran yang bisa membangun dan menyempurnakan isi makalah ini.
Kepada semua pihak yang telah membantu dan mendukung tersusunnya makalah ini, diucapkan banyak terima kasih, semoga bermanfaat. Amin
DAFTAR PUSTAKA
Sudijoono Anas, Pengantar Evaluasi Pendidikan, Jakarta PT. Raja grafindo Persada, 2011.
Arikunto Suharsimi, Dasar-Dasar evaluasi Pendidikan, Jakarta, Bumi Aksara 1995.
Www. Google.Com, Ranah Kognitif,Afektif dan Psikomotorik, di Akses Pada Tanggal 5 Oktober 2011.
Play Online Slots - JamBase
BalasHapusPlay online 제주 출장샵 slots at JamBase - 청주 출장안마 the worlds first destination for authentic casino slots and casino games! Featuring 속초 출장샵 a 24/7 Live Chat Support. Play 안동 출장안마 today! 천안 출장안마